Rabu, 26 Februari 2014

Sepi


Aku adalah selembar sepi yang takut ditinggal sendiri dalam labirin waktu
Namun takdir memahat ku dalam perjanjian yang sulit diterjemahkan secara nalar
Terkurung dilembah sunyi 
Sendiri terasing dari riuh sang hari
Naluri ku masih liar tak terkendali selengkung sabit peperangan nafas ku
Hingga aku tak pernah tau arah jalan dan warna dalam genggamanku 
Tak satu pun yang mau tulus temani sepi ku
Datang dan pergi setelah menebar cahaya dipalung asa
Kini sendiri lagi dalam balut rasa
Mendekap sepi dilembah sunyi bersama hampa 
Tanpa dapat berkata apa pada siapa 
Tangis pun pecah,
Menggenang air telaga bening sang hati
Meratap diri terlindas angkuhnya sepi
Yang kian lama kian memasung kaki.

Rindu_Sendu 26/02/14




Minggu, 23 Februari 2014

@s

Rasa hati yang dulu pernah merekah dan mati
Indah kembali saat nama ini kau lisankan dalam sebaris kata
Nyanyian rindu menggema diudara lembah sunyi
Diantara gemersik dedaunan yang bergoyang
Usai angin meniup sepoi disela ranting kering
Syahdu, masih terdengar bisik lirih itu
Enggan rasanya terbangun dari buai rasa yang tak menentu
Nanar mata memandang sekuntum mawar merah yang mengering digelas kaca disudut ruang hampa
Dahulu kau berikan pada ku sebagai mahar menyatunya rasa mu rasa ku
Untaian indah kata mu dulu " kau dan aku adalah sepasang bola mata " masih mengiang ditelinga kehidupanku


Rindu_Sendu 23/02/2014

Rabu, 19 Februari 2014

Terpatri Rasa

Engkau dalam masa ku
Masih sama seperti kemarin dulu
Terlihat angkuh dalam sekilas pandang
Namun tetap indah menawan
Terhambat jalan oleh elok rupamu
Entah apa dan mengapa otak ku bilang untuk tak tertarik padamu
Namun hati ku tak pernah berubah
Tetap kau
Mati dalam khayal sang lamunan
Membuta dalam kehidupan
Bertemu denganmu adalah harap ku


Rindu_Sendu 0214

Ampas Kopi


Ku reguk nikmat kopi 
Ku nikmati bersama dingin pagi yang menjamah bumi
Tika ku buka jendela dunia 
Burung camar asik memadu kasih
Ada ikatan setipis selaput diantara mereka
Namun kasatnya mata membuat jarak 

Ku reguk lagi hangat kopi
Ku rasakan nikmat diselongsong tenggorokan
Ku tatap lagi dan lagi sepasang camar itu
Saat teguk terakhir kopi ku
Hanya seutas do'a yang terlontar
Semoga rahmat Tuhan menyatukan kalian
Ku letakan cangkir kopi rapi disisi jendela yang terbuka
Ku tinggalkan bersama asa yang menggantung
Berharap senja nanti tak seperti pagi ini
Yang hanya menyisakan ampas kopi tak berasa
Hambar,

Rindu_Sendu 0214

Selasa, 18 Februari 2014

Cemburu


Wajah Rindu

Malam tak pernah ingkar janji pada sang fajar
Menghampiri perlahan menggandeng rindu
Tembang sang hujan masih saja berkumandang lirih
Seiring seirama menelusuri lekuk sendu pada dingin
Sementara itu udara menitip sunyi kepada semilir angin
Berkawan segumpal lamunan yang menepi pada seraut wajah
Yang terlukis bersama senja dikanvas maya
Menebar secuil hangat sapa pada aroma melati jiwa
Yang terselip disejumput celoteh aksara

ahhh....hari akan terasa panjang

Memandang diatas ketinggian lamunan
Mengukir senyuman ilusi diwajah sendiri
Berbekal rindu untuk selembar daun kering
Yang tersemat dipelataran senja hari

Rindu_Sendu 0214




Senin, 17 Februari 2014

Jejak Jiwa Biru

Awan putih merenda langit dihangat mentari pagi
Menjadi indah ketika bayang selaksa kalbu hadir
Meruang memeluk hati pemilik malam
Segala rasa merasuk sukma liar
Aku tak pernah tau
Meski aku mengerti hati ini kini mengunyah sepi
Hingga saat tangisku pecah di keheningan 
Hati kosong terkunci rindu yang memahit
Tak ku kenal manis dilidah yang kini kelu
Rasa itu mati bersama pudar mu

Ku cari sisa sisa rasa yang tercecer
Berharap satu puing masih tertinggal disana
Untukku dapat mengulas balik lembar jejak jiwa biru
Yang merengkuhnya dulu aku tak pernah bosan
Memeluknya dulu tak pernah lepas
Meski saat itu jiwa putih ku terkulai lara

Sayang...
Tak lagi ku temui sisa sisa itu disini
Dan akhirnya ku tau
Rasa mu tertinggal di sudut hati
Yang tertidur bersama jejak jiwa putih ku

Rindu_Sendu 0214




Selamat Pagi

Sepoi angin mengusik pagi
Menggoyangkan dedaun yang tengah merunduk sendu
Menggugah embun yang terperangkap malam tadi
Luruh bergulir menyusuri tulang dedaunan

Sejumput dingin menusuk kulit
Memaksa raga terenyuh dingin
Secawan hangat menjadi penawar
Larutkan hangat di antara pembuluh darah
Menjalari raga perlahan namun pasti

Di gerbang pagi ku buka lembar diary maya
Pernak pernik aksara mulai berhamburan masuk
Sapa hangat para sahabat
Menyambut pagi dengan senyum merekah

Indah,

Rindu_Sendu 0214



Gelang Rindu

Selamat Pagi hari jiwa sepi...
Masih disini menanti bersama bulir embun
Pada senyum hangat mentari pagi
Ku larung rindu tak berujung temu
Diantara goresan aksara pena yang menari
Hanya rindu yang masih tersemat dikesunyian
Hingga kadang gundah memeluk waktu
Dan rindu pun kian merona ketika langit sewarna bumi 
Aku tatap langit yang mendung sendu
Memudar pikirku tentang hadirmu
Dan aku masih berdiri disini tak bergeming sedikitpun
Hanya saja harap ku hari ini
Semoga aku dapat tersenyum diwajah hari meski tanpamu
Tanpa sentuhan hangat mu
Tanpa belai kasih dan sayang mu
Seperti dulu 
Sejenak ku terdiam mencari tempat bersandar,
Rapuhku bila kau tak disisiku
Ku sadari itu
Namun,
Masihkah kau pikirkan aku_?
Seperti kini aku memikirkan mu digelang gelang rindu


Rindu_Sendu 0214

Minggu, 16 Februari 2014

Kau


" Kau terangi hati setiap butir debu
Karena kau lah wujud itu berkobar kobar riang gembira
Karena kau lah setiap benda yang terahasia ingin menjelmakan diri
Perahu emas yang berlayar diair perak lebih benderang dari tangan musa
Dan menyuguhkan makanan bagi permata hati dibebatuan
Hati tulip yang membara dalam palung darah dalam nadi adalah buah kemurahan kasihmu
Nyalakan lampu dalam hatiku
Terangi bumi gelapku...
Singkap aku dengan kasyafmu
Agar dapat ku bawa siang hari
Kemalam gelap pemikiran timur
Karena kau adalah permulaan pagi dan aku adalah senja hari... "


Rindu_Sendu 0214

Titik Rindu


arSa { aku dalam AKU }

Siapa ini yang membelenggu…
Serupa denganku tapi dia berbeda
Sangat asing tapi aku mengenalnya
Sosoknya sangat tak asing
Tapi aku tak mengenal kepribadiannya
Siapa ini yang memenjarakan
Rasa itu tak lagi merdeka
Jeruji-jerujinya sangat rapat  mengikat
Menghimpit dari atas dan bawah
Hilang sudah batas akal
Angan-angan tak lagi melayang
Hanya mengapung telunta-lunta
Tak ada kepastian untuk bersandar
Siapa ini yang membelenggu
Dia sangat asing namun tak asing
Dalam rasa aku tak lagi tau siapa dia
Dalam imajinasi aku tak lagi mengingatnya
Sama tapi beda dalam segalanya
Asing tapi aku mengenalinya.

Rindu_Sendu 0214





Kopi Rindu

Pagi mulai merekah disela ranting yang basah
Menyisa butir embun dari dingin deras hujan semalam
Secangkir kopi temani hangat mentari disinggasana langit
Mencoba merenda rindu yang hanyut ditelaga kasih

Aku bersama dingin embun dalam secangkir kopi kerinduan
Tetap setia menantimu hingga penghujung hari
Menggenggam asa untuk disemat
Dalam bias jingga sore nanti


Rindu_sendu 0214

Meredam Tangis


Mencoba mengayun langit agar berhenti menangis
Bising telinga oleh gelegar dan tetes air matanya 
Yang semakin deras jatuh diatas kepalaku
Dua puntung rokok habis ku hisap 
Namun langit tetap saja masih menjerit
Mungkin kah langit lapar?? 
Atau mungkin langit patah hati??
Akhhh persetan dengan sebab
Yang ku mau langit berhenti menangis
Karena ku ingin senja ku terbit dibatas hari sore nanti
Ku sulut dupa dialtar langit
Mencoba bernego agar sejenak hentikan tangis
Namun langit ternyata egois
Hanya mau mendengar sang penguasa

Rindu_Sendu 0214

Lihat Saja

Tergeletak bak sampah
diantara tumpukan daun yang kering
terbakar panasnya mentari pagi
bercampur aroma busuk kotoran hewan
mengering seperti ikan yang dilumuri garam
walau terbuka luka tak dirasa perih
derita telah menjadi bagian dari dagingnya yang busuk
darah yang menetes hanyalah tetesan air mata
senyumnya adalah tangisan dari dalam jiwa
tak ada mata dalam hati
tak ada arah dalam buta
sejuta lalat menghampiri
singah mencari makan di tubuhnya
mengambil sedikit demi sedikit bagian tubuhnya
biarkan saja terjadi
jangan hiraukan semuanya
hingga hilang ditelan waktu

Rindu_Sendu 0214




 

Pengembara Malam

Untuk sekian kalinya
Malam kembali menepati janjinya
Merambati alam dengan kidung sunyi tanpa cahaya
Menghantar sepi yang tersemat ragu
Di sela sela hembusan hati sang halimun yang terkadang membisu di ujung sapa

Cinta...
Terkadang hati terselimut bimbang
Berkabut gelisah di ujung tanya yang tak pernah terjawab
Bukan menghindar...
Atau menepis rasa yang memeluk erat
Hanya rasa yang terbentuk mengundang imajinasi

Cinta...
Taukah kau ?
Tiap gores aksara mu selalu memasung netra
Mengenggam kalbu di kedalaman sejuk
Hingga nalar dan imaginasi terkadang membawa jiwa ke singgasana Aphrodite


Terbuai asmara yang terlarang

Rindu_Sendu 0214


Sabtu, 15 Februari 2014

Sunyi Hati

Ku berdiri pandangi wajah hari
menelisik hamparan awan
menyulam langit membiru kelam
dalam gemuruh debur gelombang
diantara anginan petang
disepanjang mata memandang
tak ada...
hanya sepi yg kudapati
hampa...
terasa kosong direlung hati
entah hinggap di mana
gaduh yg menerpa telinga tadi,

Dan aku hanya berdiri diantara riuhnya sunyi...

Rindu_Sendu 0214

Q'think



Love U

I love you
Adakah kau dengar?
Adakah kau tau?
Apakah kau juga sepertiku
Menanti senja musim panas untuk bertemu
I love you
Tak dapatkah kau percaya?
Hatiku telah tertambat padamu
Rindu untuk berjumpa dan menikmati senyummu


^_^
Rindu_Sendu 0214


Rindu Sendu


Benang Rindu


" Pagi ku harus memecah hening dinginnya embun
Meminta kehangatan bayu yang setia pada hidup
Meski enggan bergerak...
Namun hidup kan terus berjalan seiring waktu

Tersenyum tiap kali melihatnya terduduk dihadapanku
Rona merah dilesung pipi yang melingkar rindu hati
Kepolosan senyum yang membuat ku rela bertahan dalam enggan
Dalam pahit ketir kehidupan yang kian erat kian mencengkram

Hadirnya pelita duniaku saat terpejam
Menyulam mimpi agar tak sebatas khayal
Dengan benang biru kasih beralas kerinduan
Yang senantiasa membuncah disetiap sudut pandang

Hanya engkau sayang yang ku lihat 
Saat membuka netra sebelum aku melihat dunia "


Rindu_Sendu 0214


Rindu Ku

"
Rindu ini makin erat mengikat di setiap gerak
Melumpuhkan syaraf otak kiri dan kanan ku
Hanya ada namamu...
Hanya ada bayangan senyum simpulmu...
Hanya terdengar bisik celotehmu digendang telingaku...

Bujuk rayu mu....
Sentuhan mesramu...
Tentang mu...
Semua terangkum dalam rindu
Sebuah rindu yang tak mungkin berakhir
Meski kau ku miliki 
Meski kebersamaan dalam satu jejak langkah
Semua mengharu biru dalam Rindu

Selalu saja alunan kidung puja mu
Tak mampu ku terjemahkan secara lisan
Hanya mampu hatiku mengenali warna 
Yang tersemat diantara bait kata dalam aksara perindu

Rindu...
Semakin erat menggenggamku
Dalam genggaman tapak tangan kasih mesramu
Rindu...
Melumpuhkan syaraf otak pada kata kataku memujamu
Rindu... "

Rindu_Sendu 0214




Rintik Rindu


" Menatap lemah galaksi disepertiga malam

Bertabur gemintang kecil pada dingin yang membisu
Sedang hati memudar warna

Kesekian kali ku tangkap mega mu
Kilauan cercah membias jauh 
Lalu mengecil disudut pandang
Dan kembali terhenti pada bola mata yang surut air genangan

Kasih mu telah berubah
Pada genggaman tangan memutih suci
Menuntun sebait rasa pada ketulusan hati 
Menerima apa adanya 
Hingga pekat malam kini merintik rindu "

Rindu_Sendu 0214



Jumat, 14 Februari 2014

Rindu

Kidung malam belumlah selesai mengalun sendu 
Ketika temaram bintang menjemput fajar
Mencibir perih kerinduan yang tak terbalas 
Pada mega hitam yang merindu rembulan merah

Diatas ayunan telaga warna 
Pintal rasa yang kian lama kian mengikat 
Erat sejiwa lara terkurung pada egoisnya asa

Rindu sendu... 
Mendekap perjalanan sang jiwa kinasih 
Merintih lirih saat membuncah rasa pada genggaman jarak 
Pada rapuhnya raga yang tak mungkin dapat beranjak 
Untuk melawan tirani sang takdir yang masih saja enggan berpihak 
Waktu tak lekang menatap lembut wajah aksara 
Yang mengalir pada hilir telaga maya menuju senja

Rindu pun ku biarkan mengalir seiring arus 
Meski terkadang berputar pada pusaran cemburu bahasa 
Menggelitik rasa tak dapat berkata apa.

Rindu_Sendu 0214