Jumat, 29 Agustus 2014

Penantian

Angin tetap saja masih membisu dalam desir pilu
Meski kini mentari merekah diujung pagi hangatkan segumpal dingin
Pada sapa hangat sinar mentari, 
Rindu bergelayut disudut hati, terbias sendu
Masih tetap setia ,disini berdiri menanti... 
Mematung sendiri berkawan sepi direnta usia
Hingga nanti sepoi angin menjamah raga
Mengantar ringkih pada peraduan yang abadi

Rindu_Sendu,082014

Sisa Mimpi

Selarik rindu bertengger dipucuk halimun
Beraroma kembang kasturi membuncah diudara pagi
Menggeliat bersama rekah kemuning fajar
Sejuk sisakan lembab pada tanah basah

Pada reranting dan dedaun kering titis embun menggantung bening
Hilangkan dahaga jiwa setelah menapak intim dijejak malam
Embun pun kan luruh jatuh ke peluk bumi bersama hangat mentari
Mengurai sisa mimpi yang tak kan terjamah oleh senja sore nanti.

Rindu_Sendu,082014

Rabu, 27 Agustus 2014

Debar Rindu

Denting waktu yang terhenti kini kembali berdetak lagi
Seirama degup jantung yang mendebar saat ucap rindu membisik lirih
Ditelinga malam dibawah pendar rembulan hening
 Bersama sekecup hangat dikening malam
Rindu menggema diriak telaga hati
Hingga gerbang malam pun terkuak fajar menyingsing pagi
Mengusir dingin yang semalam menjamah gigil

Ku tau pijarmu mampu terangi gelap sudut malam
Kidungkan senada romantika kehidupan 
Menepis bayangan yang menghimpit dibentang angan.

Rindu_Sendu,082014

Geletar Rasa

Ada geletar aneh membuncah disudut hati
Dalam remang gelap bayangan memudar usang
Seiring hilangnya gugus bintang dilangit malam terkuak fajar
 Seirama kicau burung yang bertengger direranting berembun
Kini berirama nyaring berceloteh mengusir dingin
Menanti rekah sang surya hangatkan persada

Dan selarik rindu kembali menjamah jiwa
Ciptakan seberkas harap yang masih saja enggan terucap
Pada bias senja muda yang masih belum nampak
Atau mungkin takkan pernah terkuak
Hanya akan tertinggal disudut remang
Namun yakin makin mengental direlung hati
Untuknya yang takkan pernah usang meski waktu menua nanti.

Rindu_Sendu,082014


Catatan Lara Hati

Hingga detik ini masih saja tak bisa ku mengerti
Bahwasannya hati masih saja terpaut meski telah banyak luka yang kau cipta
Bahwasannya mata ini masih saja selalu ingin melihatmu
Meski yang ku lihat  selalu saja mampu menyematkan luka dalam hati
Tak bisa kah kau tak melukai hati yang masih saja menaruh rasa untukmu

Bukan inginku seperti ini...
Hanya saja hati tak mampu ku kendali
Selalu dan selalu ingin berlari ke arahmu
Walau setelah berada didekatmu...
Kau jamu aku dengan segala rasa aroma rindu yang menyakitkan
Tak bisa kah kau biarkan aku tak tersakiti oleh mu

Salah jika hati ini selalu mengayun rasa untukmu...?
Katakan jika itu salah,
Tapi jangan kau racuni rasa ku hingga terlepas tak terkendali
Kau tau ... 
Kau mengenalku lebih dari diriku mengenali jiwaku sendiri
Harusnya kau tau rasa cemburu kerap membakarku 
Tapi kenapa kau masih saja perlakukan aku seperti itu

Jika mencintaimu adalah kesalahanku...
Maka katakan,
Dan jangan biarkan mata hati dan pikirku mampu menyentuhmu lagi
Jangan biarkan rasa ini memasungku dalam gelisah lara yang tiada akhir
Bunuh saja... mungkin itu lebih baik
Lakukanlah tanpa sisakan rasa sakit lagi untuk hati ku.

Rindu_Sendu,082014


Gundah Hati

" Rindu ini lebur menjadi serpihan debu terkunyah gulana hati
Melumpuhkan seucap kata cinta diujung lidah aksara
Kelu menitik bisu, terpaku...
Hanya mampu melihat ... 
Dari sisi remang memuja bayang yang perlahan usang
Sesaat melontar senyum seuntai do'a dialtar jiwa
Berharap gundah menepi pada hati ditimang sunyi
Hingga gulana tak lagi erat memeluk
Dan terbang tertiup semilir angin semusim pagi. "

Rindu_Sendu,082014

Sabtu, 23 Agustus 2014

Gersang

Mungkin kini angin telah berhenti berhembus
Tak lagi membawa gemersik syahdu diantara dedaun kering
Tinggalkan bayangan yang berkelebat disudut pandang
Dan memahat rindu pada pijak membisu sendu
Langit pun terdiam sembunyikan gemintang pada remang
Hilang binar diwajah malam nan kelam
Pun semilir hilang alir…
Tak akan lagi memberi sejuk diantara gersang
Hingga warna kan memudar kusam tergarang sinar
Lalu hanya akan ada hening yang ku tau itu menakutkan
Mencekam kemudian menghilang disudut malam.

Rindu_Sendu, 082014


Jumat, 22 Agustus 2014

Buta

Pagi ku buta tanpa mata
Hanya mampu meraba
Bisa merasa
Bisa mendengar

Pagi ku buta
Karena silau gemerlap cahaya melukai retina

Menusuk mata hingga membuta
Tak ada lengkung pelangi yg dapat ku lihat
Tak jua rinai hujan yang jatuh didedaunan

Rona bias jingga pun kian terlupa
Hanya gelap yang ada
Merintih disudut sepi
Tak ada siapa siapa kecuali pekat yang menemani

Tanpa mata kini pagi ku buta
Tak terlihat aksara yang mampu ku baca

Tinta pun tiada guna biarkan usang dan mengering
Kini hanya mampu ku meraba
Merasa...
Mendengar sebagai mata ke tiga.


Rindu_Sendu,082014


Kosong

Sekarang diruang ini hanya ada aku dan hampa udara
Tak ada apapun yang tersisa dari puing reruntuhan hati
Sepi takkan lagi menjelma dalam wujud topeng seribu warna
Yang ada hanya aku dan sisa kenangan disudut malam yang meremang
Hingga saatnya hilang aku akan tetap memeluk intim sunyi
Berbaur dengan kegelapan beraromakan kelam
Seperti sebelum ku kenal bias pelangi tujuh warna bidadari

Dan disini aku tetap sendiri...
Menyendiri menapaki jejak usang yang kian memudar
Bersulang dengan bayangan untuk menyambut sejumput mimpi
Dengan secangkir tuak pengobat dingin yang mulai menjalari nadi.

Rindu_Sendu,082014


Kamis, 21 Agustus 2014

Rekah Rindu

Sepucuk senyum terindah dimusim dingin telah merekah
Indah hangatkan hati sanubari diladang jiwa sepi
Sementara semerbak rindu kini menghiasi langit langit kalbu
Pada hangat ditelapak tangan cinta 
Bak kuncup mawar merekah

Udara yang membeku kini mencair lembut
Mengalir disetiap ruas nafas
Menyambut sapa hangat sang mentari pagi

Dan kini lembab pun perlahan menghangat 
Meski Lembah masih saja Sunyi
Namun kelak peluk mentari kan mampu menggelitik
Mencairkan sepi dalam riuh gemuruh rindu
Pada bait bait kisah senandung cinta.

Rindu_Sendu,082014

Menunggu

Pagi ku masih saja enggan merekah indah
Sementara mentari juga telah kehilangan hangat ditangan dingin
Sepucuk daun yang masih saja basah
Bersimbah tetes gerimis sisa semalam
Tetap menunggu mentari dalam selimut kabut
Yang hingga kini masih saja membisu dalam beku
Memendam gigil diujung bening
Erat genggam pada reranting saat tertiup angin semusim
Aku masih disini,
Mempercayai sinarmu mampu hangatkan gigil
Sebutir embun yang bergelayut diujung daun setengah kering.

Rindu_Sendu,082014




Rindu Ku

Sayang,
Maaf ......
Jika angin rindu tak mampu terbangkan sehelai daun kering jauh ke singgasana langit…
Buatku kau tetap yang terindah meski tak dapat ku jamah,
Biarkan aku tetap disini menimang rindu 
Meski mungkin rindu tak akan pernah terbalas,


Ya.....
Biarkan saja rindu menggelayut dipucuk daun
Hingga saatnya kering dan terjatuh dalam peluk bumi
Sampai saat itu tiba…
Izinkan aku bersama rapuhku melihatmu …
Memeluk bayanganmu...
Seperti  jantung memeluk debarannya,
Karena kau adalah denyut nadi yang ku rindu,
Dalam sendu...


Rindu_Sendu,21/08/14

Jumat, 08 Agustus 2014

Gelisah Rindu

Lembab sudah tanah terpijak
Meninggalkan jejak di pematang malam
Deru mimpi enggan tercipta
Menjauh dari gapai kholbu

Senandung merdu berdendang perlahan
Sayup jauh menjalar di udara
Mencipta Luka yang tak pernah terpahami
Mengeja malam dengan mata terpejam
Namun mimpi enggan jua tercipta

Di ujung harap tersemat rindu
Kala cinta harus bertasbih
wujudpun tak lagi menjelma sempurna

Rindu_Senja,090814

Senin, 04 Agustus 2014

Selimut Kabut

Sendu dipucuk pagi berselimut selembar kabut
Hanya rupa dingin yang tak pernah beranjak tinggalkan gigil
Pada sekeping hati yang masih merindu
Setangkup hangat dari hasrat jamah tangan sang angin
Ya... disini pagi tanpa hangat
Masih saja setia memeluk denting pada hening
Yang telah lama tak lagi berdenting bening
Membisu bersama beku
Pada dingin....
Pada selimut kabut yang basah oleh butir butir lembut sang embun
Mengharap hangat yang dibawa angin
Mampu hangatkan hening yang membeku dingin
Untuk gigil dedaun kering.

Rindu_Sendu, 082014

Luka

Dingin itu kini makin terasa membekukan syaraf 
Pada kata membisu tergores luka didinding hati
Ntah sampai kapan semua kan kembali seperti dulu
Hadirkan sekelumit hangat untuk hampa
Hangat dari intim sang celoteh memecah hening malam

Selembut sentuh udara menggenggam jemari
Sehangat sinar mentari mendekap gigil yang terasing
Kini hanya dingin tersisa dibalik diam seribu kata
Tak tersentuh kecuali luka yang mengikatnya
Dalam dingin yang kini membeku syaraf direlung hati

Rindu_Sendu,050814