Sabtu, 20 Desember 2014

Denting Rindu

Denting itu kembali terdengar nyaring dipenghujung dengar
Mengalun syahdu isyaratkan sendu
Mengiring geliat rindu pada sejiwa bercadar biru
Berselendang jingga gemulai rasa
Hhmmmm,
Hampir satu putaran purnama kosong tak bergeming
Hanya sisakan bayangan putih bergelayut dipelupuk mata
Tak henti tersenyum menggelitik rasa
Menggoda fikir untuk terus menjamah rindu
Lagi terdengar denting itu
Nyaring bergema dalam ilusi mengalun pilu
Dan aku terdiam dalam rindu sendu.
Rindu_Sendu,1204

Sabtu, 06 Desember 2014

Sendiri


Pasung Rindu

Disini terkurung sepi..
Pada butiran serpihan hati yang tercecer 
Disini melarung rindu pada saga yang tak bertepi
Memasung jiwa terkoyak lara
Hanya disini mampu menatap bisu
Dalam kesedirian tanpa harus beranjak hilang
Berharap malam kini datang tanpa akhir
Menjejak kenangan biru samudra kasih
Pada titik rindu terbalut sendu.

Rindu_Sendu ,2014

Jiwa Biru

Masih saja kau hadir disepenggal mimpi malamku
Menggoda rinduku dengan sikap dingin acuhmu
Kau yang terlahir dari awan 
Jalanmu adalah cakrawala yang terhampar luas
Temanmu adalah para penghuni langit serupa peri 
Kau yang menjadi keindahan diatas tapak kaki bumi berpijak
Sedingin musim membeku udara
Menggetarkan pucuk ranting dalam gigil
Kala rindu bulir embun menggantung bening
Kau yang masih selalu hadir dalam lena tidurku
Dingin acuhmu menggoda rindu jiwa biruku


Rindu_Sendu,2014

Senin, 17 November 2014

Rindu Tak Terbalas


Tenggelam

Jika senja enggan nampak dihadapanku lagi...
Maka takkan ku biarkan mentari merekah diujung fajar.
Kan ku tenggelamkan disudut pandang pada malam yang takkan pernah akhir
Hingga hanya akan ada gelap dikedua alam ini.
Takkan ada pagi atau siang mulai hari ini
Hari dimulai dari gelap menuju gelap dan akan tetap gelap
Tak perlu lagi membuka mata, karena hanya akan ada kegelapan. 
Dan ini adalah MALAM HARI ku.

Rindu_Sendu, 112014


Aku & Kau



Ku hargai keputusanmu telah menolak ada hanya untukku.
Seperti itu pun aku akan menolak segala bentuk reinkarnasimu 
Mungkin sudah saatnya aku terjatuh... tersungkur didepan angkuhmu 
Dibawah telapak kaki semua sahabatmu... 
Injaklah... 
Luluhlantahkanlah selembar daun kering ini hingga tak berbentuk
Dan akan ku pastikan kau dan mereka pun takkan pernah melihatku dalam bentuk apapun juga. 
Sama seperti aku yang takkan pernah melihat Senja
Bidukku tak lagi mampu menopang badai kehancuran dalam hatiku
Aku tak ingin kau melihatku tenggelam saat ini.

Pulanglah pada mereka...
Rindu_Sendu , 112014

Aku

Aku bukan penyair yang pandai melukis aksara
Juga bukan seniman yang mampu menggambarkan rasa
Aku hanyalah bait gagap tak bermakna dimata dunia
Celoteh tak terikat aturan itulah aku

Malam kubuat siang diujung jemariku…
Sedang angin ku jadikan gemuruh jejak langkahku
Ku gemakan gagap celotehku dilangit maya
Untukku mengusir mimpi yang menggelitik sepi

Itulah aku
Lalu apa yang kau cari dari ku??
Sedangkan keanggunan itu tak ada padaku
Keindahan dan kelembutan itu bukanlah aku

Rindu_Sendu , 112014


Pijar Rasa

Entah apa yang telah bayu tiupkan pada daun kering disenja kemarin
Hingga kini satu pecahan warna memudar tak bersinar
Ada ruang kosong yang semakin terasa mengganjal hampa
Tak mampu ku raba
Apa yang telah memudar untuknya
Hingga  pada saat melihatnya…
Ada satu bagian yang tak hadir disana
Satu bagian yang telah disembunyikan bayangan dipekat malam

Kini jiwaku masih mencari… sebab redup rasa hati
Bergulat dengan hitamnya bayangan yang semakin menelan ruang
Aku takkan menyerah untuk memudar dan hilang
Tak juga untuk terus terombang ambing dan terhempas
Meski terpa angin menggoyahkan reranting tempatku berpegang
Takkan ku biarkan pecahan warna yang ku jaga pudar dan hilang begitu saja

Ku harap senja tetap merona saga
Meski malam erat menggenggam semesta
Hingga yang memudar kembali berpijar mengisi rasa.

Rindu_Sendu,112014




Tak TerEja

Pagi ku teduh berselimut sejuk
Tak terjamah tangan hangat sang surya
Secawan risau kembali hadir dibilah hati
Membumbung liar hingga merampas fikir
Hadirkan kembali bayangan aku dalam wujud bait kacau
Tak tereja kata meski lisan merafalnya
Bayu pun terdiam tak bergeming
Mendengar celoteh pagi tak beraturan
Hilang hasrat bertiup sepoi
Hingga sepucuk rindu tak terdengar bergemersik didedaun kering
Hanya berdiam diri bersama larik denting semesta hening.

Rindu_Sendu,112014

Entah

Entahlah…
Tiba tiba saja ada sebersit rindu tanpa nama
Menari gemulai diantara malam dan fajar ku
Bergema lantang mengusik rasa dipalung hati

Entahlah…
Rindu ini milik siapa
Hadir begitu saja tak bertuan
Mengukir senyum dirona wajah sendu

Entahlah…
Namun aroma rindu ini tak begitu asing
Alunannya pernah ku dengar dibilah malam yang hilang
Rindu yang masih hangat tapi tak dapat ku cari dalam ingat.

Rindu_Sendu, 112014


Derita

Malam telah kembali mengunyah rapuh sebongkah hati
Memecah tangis diantara tajamnya kata kata
Sedang isak tak mampu ku hentikan menjelma bisu
Tak lagi ada bahasa yang dapat mewakili ucap
Hingga air telaga hati terkuras dan mengering nanti

Lalu kenapa benang rasa ini dibiarkan ada
Jika pada setiap ujungnya terdapat besi tajam yang mampu membuat luka
Inilah lemah ku yang senantiasa terlindas rasa
Mematri pahit dilidah hidup
Tak ada lengkung senyum digaris hidupku yang tak berakhir pada isak
Mungkin cara ku memintal rasa terlalu hina
Mungkin pula jalanku terlalu kotor
Dan atau karena aku tak layak untuk bahagia

Aku rela jika takkan pernah ada senyum tulus bahagia untukku
Namun jangan biarkan ada luka yang akan terus membingkai rasa
Yang tercipta dari tajamnya lidah bahasa


Rindu_Sendu,18/11/2014

Selasa, 09 September 2014

Tangis Sang Gagak

Pada bilah malam yang mengerucut fajar
Kembali terdengar gagak hitam menangis dalam remang
Warta pun tersampaikan  bersama desir angin
Yang kini terasa gersang
Jangan kau menangis wahai Gagak
Tangismu adalah dukaku
Perih luka hati karena tetes air matamu
Takkan pernah dapat terobati apapun
Hanya ingin ku dengar gema koar mu
Yang merobek hening malam
Membuncah diudara lembah sunyi
Sebagai pertanda kau bahagia disana
Jangan menangis…
Karena tangismu adalah duka dalam hati ku.

Rindu_Sendu,092014




Luka Sendu

Kurasa sendu masih erat memeluk lukaku
Pengap udara sesakkan nafas dikantung paruku
Langkah tertatih pada pijak tak tentu arah
Memendam puing pecahan rasa pada hening tak bertepi

Bayangku makin hilang memudar 
Namun duka lara masih enggan meneggelamkanku dilembah sunyi
Masih saja terdengar isak tangis perih
Dari ceceran puing puing reruntuhan asa

Biarkan aku hidup disini tanpa sentuhku pada langitmu
Biarkan merapuh dan melebur
Jangan kau buat ada tetes air yang makin membuat luka itu perih
Aku lelah, dan ingin lupakan semua.

Rindu_Sendu, 092014

Lingkar Purnama

Ternyata lingkar purnama telah sempurna dilangit sana
Berkawan segumpal awan yang setia berarak disampingnya
Meski langit terlihat kelam dalam bisu
namun purnama tetap indah bergantung terangi sisi gelapnya

Semilir anginpun terasa sejuk damaikan hati
Menyapu bersih debu yang menempel
karena jejak siang tergarang panas…
Dan setangkup harapan baru telah lahir disini
Digerbang fajar yang mulai menggeliat
karena seruan merdu malam untuk segera bertasbih
Tetes embun pun mulai nampak dipucuk pagi.

Rindu_Sendu, 092014


.

Kremasi

           Sampailah pada batas puncak ikhlas,
  Dimana akhirnya ditangan ini daun kering harus ku kremasi
     Tak ingin lagi ku lihat ia terluka,
Terinjak hina hidup yang tak abadi
Biarkan menjadi abu…
              Kan ku larung dibentang samudra langit biru
       Bersama hembus angin kemarau pembawa debu
Membumbung diangkasa kemudian hilang dalam peluk nirwana

Rindu_Sendu,092014




Sabtu, 06 September 2014

Luluh Lantah

Inikah malam itu, 
Dimana rembulan kehilangan pendar keemasannya
Dan angin memaksa daun kering melepas pegangnya pada reranting
Lalu menghempasnya terjatuh jauh ke dasar bumi

Inikah malam itu,
Dimana sepenggal kisah telah berakhir,
Menoreh sekelumit luka sampai puncak titik akhir
Yang hanya menyisakan bau anyir dari busuk yang berlendir

Inikah malam itu,
Saat satu harapan anak manusia musnah sia sia
Hingga tak mampu lahirkan tunas asa baru
Karena pada akar kau telah menghancurkannya

Rindu_Sendu,092014


Jumat, 05 September 2014

Bisik Luka

Masih saja terngiang ditelinga malam
Seakan terpatri dibilah sepi
Kata singkat setajam sembilu yang 
terlontar dari lembut cahaya senja
Meruntuhkan segala hasrat dan asa 
Luluh lantah menjadi debu yang membumbung diudara, sesak.

Saat ini bukan hanya luka gores yang menganga
Namun hujam sembilu tepat dirongga dada
Takkan pernah ku lepas sebagai pengingat
Biarkan berkarat tetap menancap
Sebagai cermin tempat hati berkaca bahasa

Yakinku untuk senja hadir esok telah memudar
Takkan ku lirik lagi langit barat meski biasnya tertinggal disana
Biarkan tangis pilu rembulan menjadi pembatas waktu
Tak selayak awan yang berarak menghiasi senja
Pun tak seindah bias jingga yang setia pada senja
Rumput liar tetaplah terinjak sebagai takdirnya.

Rindu_Sendu, 092014



Rabu, 03 September 2014

Dusta

Malampun membuka tabir selaput dusta 
dari pijar teduh sang senja
Bahwasannya senja adalah mentari yang terik 
menggarang bumi siang tadi
Bahwasannya senja ialah fajar 
yang membangunkan lelap mata pada titik mimpi
Lalu langit membasuhnya dengan gerimis

Hingga luruh debu dusta diwajah malam
Kini hanya ada gelap bersama temaram bintang dilangit-langit 
Terkadang senandung serangga malam menjadi penglipur lara
ketika angin membelai lembut helai nyiur diremang sana.

Rindu_Sendu,092014


Jumat, 29 Agustus 2014

Penantian

Angin tetap saja masih membisu dalam desir pilu
Meski kini mentari merekah diujung pagi hangatkan segumpal dingin
Pada sapa hangat sinar mentari, 
Rindu bergelayut disudut hati, terbias sendu
Masih tetap setia ,disini berdiri menanti... 
Mematung sendiri berkawan sepi direnta usia
Hingga nanti sepoi angin menjamah raga
Mengantar ringkih pada peraduan yang abadi

Rindu_Sendu,082014

Sisa Mimpi

Selarik rindu bertengger dipucuk halimun
Beraroma kembang kasturi membuncah diudara pagi
Menggeliat bersama rekah kemuning fajar
Sejuk sisakan lembab pada tanah basah

Pada reranting dan dedaun kering titis embun menggantung bening
Hilangkan dahaga jiwa setelah menapak intim dijejak malam
Embun pun kan luruh jatuh ke peluk bumi bersama hangat mentari
Mengurai sisa mimpi yang tak kan terjamah oleh senja sore nanti.

Rindu_Sendu,082014

Rabu, 27 Agustus 2014

Debar Rindu

Denting waktu yang terhenti kini kembali berdetak lagi
Seirama degup jantung yang mendebar saat ucap rindu membisik lirih
Ditelinga malam dibawah pendar rembulan hening
 Bersama sekecup hangat dikening malam
Rindu menggema diriak telaga hati
Hingga gerbang malam pun terkuak fajar menyingsing pagi
Mengusir dingin yang semalam menjamah gigil

Ku tau pijarmu mampu terangi gelap sudut malam
Kidungkan senada romantika kehidupan 
Menepis bayangan yang menghimpit dibentang angan.

Rindu_Sendu,082014

Geletar Rasa

Ada geletar aneh membuncah disudut hati
Dalam remang gelap bayangan memudar usang
Seiring hilangnya gugus bintang dilangit malam terkuak fajar
 Seirama kicau burung yang bertengger direranting berembun
Kini berirama nyaring berceloteh mengusir dingin
Menanti rekah sang surya hangatkan persada

Dan selarik rindu kembali menjamah jiwa
Ciptakan seberkas harap yang masih saja enggan terucap
Pada bias senja muda yang masih belum nampak
Atau mungkin takkan pernah terkuak
Hanya akan tertinggal disudut remang
Namun yakin makin mengental direlung hati
Untuknya yang takkan pernah usang meski waktu menua nanti.

Rindu_Sendu,082014


Catatan Lara Hati

Hingga detik ini masih saja tak bisa ku mengerti
Bahwasannya hati masih saja terpaut meski telah banyak luka yang kau cipta
Bahwasannya mata ini masih saja selalu ingin melihatmu
Meski yang ku lihat  selalu saja mampu menyematkan luka dalam hati
Tak bisa kah kau tak melukai hati yang masih saja menaruh rasa untukmu

Bukan inginku seperti ini...
Hanya saja hati tak mampu ku kendali
Selalu dan selalu ingin berlari ke arahmu
Walau setelah berada didekatmu...
Kau jamu aku dengan segala rasa aroma rindu yang menyakitkan
Tak bisa kah kau biarkan aku tak tersakiti oleh mu

Salah jika hati ini selalu mengayun rasa untukmu...?
Katakan jika itu salah,
Tapi jangan kau racuni rasa ku hingga terlepas tak terkendali
Kau tau ... 
Kau mengenalku lebih dari diriku mengenali jiwaku sendiri
Harusnya kau tau rasa cemburu kerap membakarku 
Tapi kenapa kau masih saja perlakukan aku seperti itu

Jika mencintaimu adalah kesalahanku...
Maka katakan,
Dan jangan biarkan mata hati dan pikirku mampu menyentuhmu lagi
Jangan biarkan rasa ini memasungku dalam gelisah lara yang tiada akhir
Bunuh saja... mungkin itu lebih baik
Lakukanlah tanpa sisakan rasa sakit lagi untuk hati ku.

Rindu_Sendu,082014


Gundah Hati

" Rindu ini lebur menjadi serpihan debu terkunyah gulana hati
Melumpuhkan seucap kata cinta diujung lidah aksara
Kelu menitik bisu, terpaku...
Hanya mampu melihat ... 
Dari sisi remang memuja bayang yang perlahan usang
Sesaat melontar senyum seuntai do'a dialtar jiwa
Berharap gundah menepi pada hati ditimang sunyi
Hingga gulana tak lagi erat memeluk
Dan terbang tertiup semilir angin semusim pagi. "

Rindu_Sendu,082014

Sabtu, 23 Agustus 2014

Gersang

Mungkin kini angin telah berhenti berhembus
Tak lagi membawa gemersik syahdu diantara dedaun kering
Tinggalkan bayangan yang berkelebat disudut pandang
Dan memahat rindu pada pijak membisu sendu
Langit pun terdiam sembunyikan gemintang pada remang
Hilang binar diwajah malam nan kelam
Pun semilir hilang alir…
Tak akan lagi memberi sejuk diantara gersang
Hingga warna kan memudar kusam tergarang sinar
Lalu hanya akan ada hening yang ku tau itu menakutkan
Mencekam kemudian menghilang disudut malam.

Rindu_Sendu, 082014


Jumat, 22 Agustus 2014

Buta

Pagi ku buta tanpa mata
Hanya mampu meraba
Bisa merasa
Bisa mendengar

Pagi ku buta
Karena silau gemerlap cahaya melukai retina

Menusuk mata hingga membuta
Tak ada lengkung pelangi yg dapat ku lihat
Tak jua rinai hujan yang jatuh didedaunan

Rona bias jingga pun kian terlupa
Hanya gelap yang ada
Merintih disudut sepi
Tak ada siapa siapa kecuali pekat yang menemani

Tanpa mata kini pagi ku buta
Tak terlihat aksara yang mampu ku baca

Tinta pun tiada guna biarkan usang dan mengering
Kini hanya mampu ku meraba
Merasa...
Mendengar sebagai mata ke tiga.


Rindu_Sendu,082014


Kosong

Sekarang diruang ini hanya ada aku dan hampa udara
Tak ada apapun yang tersisa dari puing reruntuhan hati
Sepi takkan lagi menjelma dalam wujud topeng seribu warna
Yang ada hanya aku dan sisa kenangan disudut malam yang meremang
Hingga saatnya hilang aku akan tetap memeluk intim sunyi
Berbaur dengan kegelapan beraromakan kelam
Seperti sebelum ku kenal bias pelangi tujuh warna bidadari

Dan disini aku tetap sendiri...
Menyendiri menapaki jejak usang yang kian memudar
Bersulang dengan bayangan untuk menyambut sejumput mimpi
Dengan secangkir tuak pengobat dingin yang mulai menjalari nadi.

Rindu_Sendu,082014


Kamis, 21 Agustus 2014

Rekah Rindu

Sepucuk senyum terindah dimusim dingin telah merekah
Indah hangatkan hati sanubari diladang jiwa sepi
Sementara semerbak rindu kini menghiasi langit langit kalbu
Pada hangat ditelapak tangan cinta 
Bak kuncup mawar merekah

Udara yang membeku kini mencair lembut
Mengalir disetiap ruas nafas
Menyambut sapa hangat sang mentari pagi

Dan kini lembab pun perlahan menghangat 
Meski Lembah masih saja Sunyi
Namun kelak peluk mentari kan mampu menggelitik
Mencairkan sepi dalam riuh gemuruh rindu
Pada bait bait kisah senandung cinta.

Rindu_Sendu,082014