Jumat, 25 Juli 2014

Rindu Dia

ada yang meresahkan hari ku
sampai ku terjaga hingga malam melebihi separuhnya
meresahkan hati ku
mengganggu fikir ku
dia memang selalu ada dalam hari-hari ku
dalam kepala ku
dan aku tak pernah mampu jauh darinya
selalu saja rindu ini mengganggu ku
tak ada tempat untuk ku bersembunyi dari rindu ini
karena rindu ini selalu tahu tempat terbaik ku saat sembunyi
dia cepat menyergap ku ketika jauh dari dia
lalu menyeret ku dalam gelisah tak bertepi
seperti ditelan dalam gelap
dan hanya dia dan rindu ini yang ada
bermain-main dalam hati dan kepala ku
aku selalu tak mampu
menahan rindu ini
sekejap saja jauh dari nya
hati ku tak menentu
dan rindu pun datang
dia semoga baik-baik saja disana
doa ku selalu untuk mu

Rindu_Sendu,2014

Ragu


Celoteh Gagak Hitam


Tak ada lagi yang tersisa...
Ketika semua hilang dikunyah lemah
Musnah bersama kepingan terakhir disudut malam
Hanya terpaku pada diam disudut lembah hitam
Tergenangi luapan air telaga hati

Kabarkanlah pada sejiwa angin...
Pada kuncup kuncup teratai dirawa hina
Pun pada mega yang berarak dicakrawala sana
Bahwa satu keyakinan dari selembar daun kering telah gugur
Luluh lantah termamah pijak ego sang kembara
Hanya untuk menimang sebuah senyum sang bintang kejora...

Kini tinggalah kosong...
Kembali belajar memecah cahaya menjadi pecahan warna
Mencari kristal kristal pecahan rasa dibalik celoteh kata
Lalu merangkainya menjadi "AKU"
Dan harap kalian tak lagi mengusik "AKU"
Rindu_Sendu,072014

Untuk Senja

Meski berjuta huruf dalam kata berhamburan...
Kau takkan pernah bisa mengerti rasa ku.\

Biar disini aku membusuk dengan keburukanku
Dan kau tersenyumlah bersama mereka disana

Jadilah keindahan yang akan disanjungi oleh mereka
Semoga kelak jika telaga air mata ini surut dan mengering
Kau akan tau dalamnya luka yang kau tinggalkan didasar sini
Memasungku dalam rindu sendu yang takkan pernah lekang oleh waktu

Terima kasih..... kau tetap yg terindah
Meski duri dari mawarmu telah mencabik daging hingga mengoyak tulangku
Kau tetap Kelana Senja ku.


Rindu_Sendu, 072014

Kamis, 24 Juli 2014

Menunggu Senja

Masih...
Aku masih disini...
Menantimu ditepian hari
Berkawan sunyi,
Menatap sisa tapak jejakmu yang kian memudar

Aku masih disini...
Mati bersama angkuhmu...
Dan sepi mengurung diri
Hanya lembab udara yang mampu menjamahku
Hampa sesakkan paru
Hingga sulit bagiku bernafas lagi

Namun aku masih disini,
Mencoba bertahan dalam dingin
Menunggumu kembali bersama fajar
Untuk merona di sorenya hari.

Rindu_Sendu, 072014

Penantian tertunda

Katakan pada langit yang bersanding dengan bintang malam
Takkan ada rona lain yang mampu mewarnai rasaku
Hanya bias saga yang tertinggal dalam detak jantung
Mengalir basah dalam aorta
Temani ku menghela nafas meski hujam telah memudarkannya

Andai aku tau tanpamu sunyi begitu sepi
Enggan rasa hidup berkalang mimpi tentang jingga dipenghujung hari
Lelah sayap mengepak rindu nan syahdu
Pada penantian kelabu mengulum sendu

Kini ku habiskan sisa waktu
Duduk bersimpuh di altar pemujaan
Mengharap kau terlahir kembali
Tuk sekedar temaniku menyambung mimpi

Kembalilah untuk ku bias saga ku
Agar penantianku tak seucap kata sia sia

Rindu_Sendu,250714


C9 n+1

Ada butir butir rindu yang tak menetes dibilah hati
Menggumpal menjadi bentuk asing yang tak ku kenal
Tujuh sudut enam sisi
Satu titik pada poros simetri
Serumit aljabar hati yang coba sedang ku urai dalam rumus
Jemaripun mulai menari...
Mengurai satu titik poros hati
Hingga ku temukan satu jenis rindu
Yang sulit ku terjemahkan 
Tak dapat ku pecah dengan hanya aljabar aritmatika
Dan pada tetes terakhir tinta tergurat diujung pena
Akhirnya ku temukan rumus untuk jenisnya
C9 n+1

Hatchiiihhh!!!
Buyar rumus seketika,
Mungkin karena dingin menelan jiwa
Sedang gigilnya mengusik pikir enggan menyingkir
 Hmm ya sudahlah
C9 n+1
Untuk rindu diujung sendu.

Rindu_Sendu , 072014

Rabu, 23 Juli 2014

Selimut Hati


Bagaimana bisa ku sentuh mentari yang ku pikir mampu menghangatkan gigil yang menjalar diurat urat nadi... 
Sedangkan untuk melihatnya saja kemilau tajam menusuk retina mata hingga membuta.
Lalu bagaimana mungkin aku mampu mendekap sang mentari...
Jika berada jauh darinya saja mampu membuatku terbakar hingga hangus legam.
Biarlah kini ku hanya mampu melihat bayangan mentari yang terpantul diwajah air genangan.
Dan merasakan hangatnya hanya sebagai rasa yang tercipta dari imaji sebelum malam membuaiku dalam selimut gelap.

Rindu_Sendu , 0714



Denyut Rindu

Sayang,
Maaf ......
Jika angin rindu tak mampu terbangkan sehelai daun kering jauh ke singgasana langit…
Buatku kau tetap yang terindah meski tak dapat ku jamah,
Biarkan aku tetap disini menimang rindu 
Meski mungkin rindu tak akan pernah terbalas,
Ya.....
Biarkan saja rindu menggelayut dipucuk daun 
Hingga saatnya kering dan terjatuh dalam peluk bumi
Sampai saat itu tiba… 
Izinkan aku bersama rapuhku melihatmu … 
Memeluk bayanganmu...
Seperti  jantung memeluk debarannya,
Karena kau adalah denyut nadi yang ku rindu,
Dalam sendu... 

Rindu_Sendu, 240714


Sabtu, 12 Juli 2014

Langkah Kaki

Kulangkahkan kaki menapaki puing puing hati
Mencoba melangkah pergi tinggalkan kelam disisi mati
Larungkan segala lara pada sesungai sepi
Yang mengalir takkan pernah henti
Sendiri berkawan sunyi
Menyulam kenangan dalam bait bait mimpi
Sepi....
Sendiri...
Sunyi....
Itulah mati yang memeluk mimpi dalam hati


Rindu_Sendu,0714


Kelana Senja

Rindu_Sendu,0714

Minggu, 06 Juli 2014

Denting Rindu


Denting itu terdengar lagi...
Seiring malam yang menua menyingsing fajar
Denting nada rindu yang mengalun sendu
Ntah darimana nada itu muncul
Hanya saja selalu bergema diwaktu senyap 
Lirih..... namun mengusik hati, perih
Sekejap, namun melekat
Memaksa mata mengikuti telinga terbuka untuk mencari
Namun tak dapat ku temui
Nada denting sendu yang merindu
Hilang bersama malam menyingsing fajar

Rindu_Sendu,0714



Sendu


Ku lepas kau sepenuhnya...
Kau dengan segala kelembutan 
Pemilik hati aksara sendu,
Tak seharusnya aku menginginkan mu 
Seperti kemarin aku mengekang mu.
Hhuufft, 
Jadilah bait syair terindah dideretan aksara pujangga
Bersama ku kau hanya menjadi sampah tak guna
Aku cukup melihat dan merindumu diam diam
Pergilah menjadi indah dari yang terindah
Kenangan itu kan ku bawa hingga waktu tak merindu ku
Jaga sayap mu...
cukup sayap patah itu aku.

Rindu_Sendu, 2014


Semusim

Semusim telah berlalu,
Musim dimana bunga bunga cinta bermekaran
Terbang berguguran bersama angin
Musim dimana kau berjanji  menjaga hati untukku

Kini,
Satu musim telah berganti
Bukan seperti apa mau mu, atau juga seperti mau ku
Musim dimana kata membeku dalam bisu
Kelu...  menyisakan sepucuk gigil disudut hati
Hingga kau tak akan pernah tau
Seperti apa sebenarnya mau ku,
Seperti apa rasa sepeninggal musim lalu

Dan aku akan menikmati musim ini bersama sepi ku
Mengenangmu sebagai butiran dingin
Aku akan disini...
Seperti janjiku yang akan selalu melihatmu
Berjalan didepanku...
Melewati berbagai musim dengan orang terdekatmu.

Tak perlu kau tengok lagi musim lalu
Dimana ada setangkup lara
Yang terlahir dari ego yang mengekang
Tersenyumlah bersama nya
Hingga musim bunga cinta kembali hadir untukmu dan dia

Rindu_Sendu , 060714


Selasa, 01 Juli 2014

Sekarat


Sampai pada puncak terendah titik nyeri
Dimana kata menggores perih pada sekelumit luka usang
Tak lagi ada harmoni yang harus dipercaya 
Karena sepoi angin pun tak pernah nyata 
Cukup sudah luahan kata yang kau jadikan serangkaian nada
Hanya terdengar fals digendang telinga
Lelah hati ku rasa
Sudahi saja epilog kita
Dan dalam senyum kali ini ada hati yang pelan-pelan mati.

Rindu_Sendu , 2014

Malam


Ini malamku yang masih saja enggan terlelap 
Meski dingin memeluk mesra dalam rintik gerimis
Gigil yang menjamah ringkih raga 
Menusuk pori mencarut marut sumsum tulang tulang ku
Kau adalah epidemi kekacauan yang mengakar diurat logika
Yang hadirkan cemburu hingga mencinta buta
Kau menjadikan sumber air bahagia ataupun mata dusta
Ini adalah malamku dimana masih saja hati enggan mengatup mata
Gemersik gelisah yang senantiasa terdengar dibatas logika.

Rindu_Sendu , 0714

Catatan Kecil


Langkah kaki ku terhenti dipersimpangan 
Mulai mengeja rasi biduk dijelaga malam
Mungkin sudah saatnya memutar jejak langkah pada arah
Kembali mencari empat pilar yang belum sempat ku temukan
Mimpi mimpi itu kembali menjadi bayangan
Disaat mata terpejam ruh terpisah dari raga rapuh
Berjalan mengitari waktu
Telunjuk menjadi penunjuk
Titah bungkam dari kata yang tak dapat terlisan
 Bayanganpun memutih dihadapan diri
Mengharap hijau menjadi payung sejati

Langit masih gelap saat kesadaranku kembali membuka mata
Mencari kembali makna mimpi yang tersemat 
Namun buntu jalan pikir tertambat pada gemerlap
Hingga hilang jejak memudar bayang pada cahaya yang meruang
Menyisakan asa pada ringkih jiwa tak bertulang
Lalu hilang dipenghujung malam bersama fajar

Rindu_Sendu, 0714


Janji

Ketika janji hati dipertanyakan
Elak kata berhamburan
Layak debu tertiup angin jalanan, pengap...
Andai cinta tak terlanjur bersemi
Nadzar tak terucap janji
Akankah kau tetap disini temani sepinya hati
Saat sapamu mendayu sendu sang maha rindu
Elus rasa dititian kalbu
Nyatakan ilusi pada sebait kata tak berkutip
Jamah tiap jengkal cinta dengan bahasa, santun...
Apakah akan tetap terasa andai hidup berhenti memutar waktu
Ketika saatnya nanti aku lenyap bersama sepi
Usaikan cerita sepenggal janji.

Rindu_Sendu , 2014

Selingkuh Dingin


Gerimis Pagi


Hilang semua kata
Semua kalimat Semua makna
Tak mengalir lg jiwa dalam pena
Yang ada hanya kosong
Seakan jauh kata dari arti
Hanya pena tak bertinta
Wahai ruh
Kemana perginya
Mata tak lg melihat
Telinga tak mendengar
Rasa tak merasa
Hidung tak mencium
Menjadi sia-sia kertas putih
Diselimuti dingin
Terbakar panas
Hinga berlumut dan tertutup debu
Semakin hari semakin berkarat
Lapuk dimakan sang waktu
Wahai ruh dari pena
Kembali lah 
Buat lah kata menjadi kalimat
Hinga semua berarti
Wahai air yg jatuh dari langit
Ketika malam berganti
Bawalah kembàli ruh pena
Dan jadikan semua ini bermakna

Rindu_Sendu , 2014




Warna Rindu'ku

Ini bukan puisi aksara hati kk,
Hanya sekedar bisik hati yang selalu terdengar gundah.

Seiring langkah angin sore ini...
Gemerisik lirih menerpa daun diantara ranting ranting kering,
Khayal pikirku membumbung tinggi menyentuh cakrawala,
Tentangmu....
Aku tak mampu memupus angan,
Kau anggrek terindah dalam hidupku...
Yang tak layu meski aku dengan lemahku,
Terlupa akan ada mu.

Inilah aku,
Rindu ini sewarna angin,
Untuk mu tak berubah arah,
Meski berputar di empat penjuru,
Rindu ku milik mu...
Tetap untuk mu,
Meski tak terlihat namun masih berasa,
Seperti keindahan yang hampa dengan satu warna,
Bening seperti udara lembut seperti embun dipucuk daun,
itu aku dan warna rindu ku...
Untuk mu.

Rindu_Sendu , 0714

Dia diSelembar Mimpi


Malam malam yang mengikat tabir mimpi kembali hadir,
Semakin terasa begitu nyata...
Dia hadir dalam selembar mimpi yang membuatku terjaga dari lena malam,
Jelas ku lihat raut wajah sendu itu begitu teduh, tanpa kata...
Lelaki awan yang pernah memberiku setangkai mawar merah,
Menjadi kekasih hati dalam sekejap lalu hilang diangkasa,
Kini dia ku temui dalam sudut imajinasi malam,

Masih saja hati ini bergetar ketika melihatnya,
Masih saja darah berdesir tiap kali ku cium jabat tangannya,
Meski itu dalam mimpi...
Membuatku gila saat melihat jauh kedasar pandangan matanya,
Ada rasa tersembunyi disana yang memunafikan takdir,
Begitu nyata semalam tadi,
Meski nyata dalam mimpi...

Sejenak ku bernikan kaki melangkah keluar mecari gelap dilangit malam,
Ku temukan Bintang Hitam masih terjaga disana,
Iya.... bintang hitam hitam,
Disanalah takdir kami,
Dia yang takkan pernah ku miliki,
Namun kami terikat dalam satu ucap ikatan janji, 
Kembali mengayun hati dipangkuan rindu,
Yang hadir sesaat dalam selembar mimpi.

Rindu_Sendu,0714


- Keindahan Sesaat -

Telah ku tinggalkan rasa untukmu dipelataran senja
Bersama setangkai bunga mawar merah tanpa duri
Untukmu ku sulam keindahan rasa itu sebagai persembahan
Tanda rasaku pernah hangat oleh hadirnya dirimu
Kau yang pernah bertahta di sisi terang hati ini
Debar kasih mengikat erat mengurat nadi

Kini....
Tak mengapa jika kau lelah bersamaku mengayun asmara 
Kau tinggalkan aku sendiri pun aku ikhlas
Biar sepi kembali mengurungku dalam lembah kesunyian
Bersama patahan sayap yang mungkin takkan pernah pulih
Pergilah...
Jumpai kasih hatimu yang selama ini kau tinggalkan 
Hanya karena iba mu melihat terpurukku mengerang nyeri

Aku akan tinggal bersama bayang bayang bias senja
Perlahan mengenangmu
Hingga kenangan itu menghilang diujung waktu
Dan akan ku katakan pada esok bahwa kau adalah keindahan sesaat
Yang dikirimkan Tuhan untukku dihari kemarin.

Rindu_Sendu , 0714