Senin, 17 November 2014
Tenggelam
Jika senja enggan nampak dihadapanku lagi...
Maka takkan ku biarkan mentari merekah diujung fajar.
Kan ku tenggelamkan disudut pandang pada malam yang takkan pernah akhir
Hingga hanya akan ada gelap dikedua alam ini.
Takkan ada pagi atau siang mulai hari ini
Hari dimulai dari gelap menuju gelap dan akan tetap gelap
Tak perlu lagi membuka mata, karena hanya akan ada kegelapan.
Dan ini adalah MALAM HARI ku.
Rindu_Sendu, 112014
Aku & Kau
Ku hargai keputusanmu telah menolak ada
hanya untukku.
Seperti itu pun aku akan menolak segala bentuk reinkarnasimu Mungkin sudah saatnya aku terjatuh... tersungkur didepan angkuhmu
Dibawah telapak kaki semua sahabatmu...
Injaklah...
Luluhlantahkanlah selembar daun kering ini hingga tak berbentuk
Dan akan ku pastikan kau dan mereka pun takkan pernah melihatku dalam bentuk apapun juga.
Sama seperti aku yang takkan pernah melihat Senja
Bidukku tak lagi mampu menopang badai kehancuran dalam hatiku
Aku tak ingin kau melihatku tenggelam saat ini.
Pulanglah pada mereka...
Rindu_Sendu , 112014
Aku
Aku
bukan penyair yang pandai melukis aksara
Juga bukan seniman yang mampu menggambarkan rasa
Aku hanyalah bait gagap tak bermakna dimata dunia
Celoteh tak terikat aturan itulah aku
Malam kubuat siang diujung jemariku…
Sedang angin ku jadikan gemuruh jejak langkahku
Ku gemakan gagap celotehku dilangit maya
Untukku mengusir mimpi yang menggelitik sepi
Itulah aku
Lalu apa yang kau cari dari ku??
Sedangkan keanggunan itu tak ada padaku
Keindahan dan kelembutan itu bukanlah aku
Rindu_Sendu , 112014
Pijar Rasa
Entah apa yang
telah bayu tiupkan pada daun kering disenja kemarin
Hingga kini satu
pecahan warna memudar tak bersinar
Ada ruang kosong
yang semakin terasa mengganjal hampa
Tak mampu ku raba
Apa yang telah memudar
untuknya
Hingga pada saat melihatnya…
Ada satu bagian
yang tak hadir disana
Satu bagian yang
telah disembunyikan bayangan dipekat malam
Kini jiwaku masih
mencari… sebab redup rasa hati
Bergulat dengan
hitamnya bayangan yang semakin menelan ruang
Aku takkan menyerah
untuk memudar dan hilang
Tak juga untuk
terus terombang ambing dan terhempas
Meski terpa angin
menggoyahkan reranting tempatku berpegang
Takkan ku biarkan
pecahan warna yang ku jaga pudar dan hilang begitu saja
Ku harap senja
tetap merona saga
Meski malam erat
menggenggam semesta
Tak TerEja
Pagi ku teduh berselimut sejuk
Tak terjamah tangan hangat sang surya
Secawan risau kembali hadir dibilah hati
Membumbung liar hingga merampas fikir
Hadirkan kembali bayangan aku dalam wujud bait kacau
Tak tereja kata meski lisan merafalnya
Bayu pun terdiam tak bergeming
Mendengar celoteh pagi tak beraturan
Hilang hasrat bertiup sepoi
Hingga sepucuk rindu tak terdengar bergemersik
didedaun kering
Hanya berdiam diri bersama larik denting semesta
hening.
Rindu_Sendu,112014
Entah
Entahlah…
Tiba tiba saja ada sebersit rindu tanpa nama
Menari gemulai diantara malam dan fajar ku
Bergema lantang mengusik rasa dipalung hati
Entahlah…
Rindu ini milik siapa
Hadir begitu saja tak bertuan
Mengukir senyum dirona wajah sendu
Entahlah…
Namun aroma rindu ini tak begitu asing
Alunannya pernah ku dengar dibilah malam yang hilang
Rindu yang masih hangat tapi tak dapat ku cari dalam ingat.
Rindu_Sendu, 112014
Derita
Malam telah kembali mengunyah rapuh sebongkah hati
Memecah tangis diantara tajamnya kata kata
Sedang isak tak mampu ku hentikan menjelma bisu
Tak lagi ada bahasa yang dapat mewakili ucap
Hingga air telaga hati terkuras dan mengering nanti
Lalu kenapa benang rasa ini dibiarkan ada
Jika pada setiap ujungnya terdapat besi tajam yang mampu
membuat luka
Inilah lemah ku yang senantiasa terlindas rasa
Mematri pahit dilidah hidup
Tak ada lengkung senyum digaris hidupku yang tak berakhir
pada isak
Mungkin cara ku memintal rasa terlalu hina
Mungkin pula jalanku terlalu kotor
Dan atau karena aku tak layak untuk bahagia
Aku rela jika takkan pernah ada senyum tulus bahagia
untukku
Namun jangan biarkan ada luka yang akan terus membingkai
rasa
Yang tercipta dari tajamnya lidah bahasa
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)

.jpg)


.jpg)

