Malam telah kembali mengunyah rapuh sebongkah hati
Memecah tangis diantara tajamnya kata kata
Sedang isak tak mampu ku hentikan menjelma bisu
Tak lagi ada bahasa yang dapat mewakili ucap
Hingga air telaga hati terkuras dan mengering nanti
Lalu kenapa benang rasa ini dibiarkan ada
Jika pada setiap ujungnya terdapat besi tajam yang mampu
membuat luka
Inilah lemah ku yang senantiasa terlindas rasa
Mematri pahit dilidah hidup
Tak ada lengkung senyum digaris hidupku yang tak berakhir
pada isak
Mungkin cara ku memintal rasa terlalu hina
Mungkin pula jalanku terlalu kotor
Dan atau karena aku tak layak untuk bahagia
Aku rela jika takkan pernah ada senyum tulus bahagia
untukku
Namun jangan biarkan ada luka yang akan terus membingkai
rasa
Yang tercipta dari tajamnya lidah bahasa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar