Jumat, 22 Agustus 2014

Kosong

Sekarang diruang ini hanya ada aku dan hampa udara
Tak ada apapun yang tersisa dari puing reruntuhan hati
Sepi takkan lagi menjelma dalam wujud topeng seribu warna
Yang ada hanya aku dan sisa kenangan disudut malam yang meremang
Hingga saatnya hilang aku akan tetap memeluk intim sunyi
Berbaur dengan kegelapan beraromakan kelam
Seperti sebelum ku kenal bias pelangi tujuh warna bidadari

Dan disini aku tetap sendiri...
Menyendiri menapaki jejak usang yang kian memudar
Bersulang dengan bayangan untuk menyambut sejumput mimpi
Dengan secangkir tuak pengobat dingin yang mulai menjalari nadi.

Rindu_Sendu,082014


Kamis, 21 Agustus 2014

Rekah Rindu

Sepucuk senyum terindah dimusim dingin telah merekah
Indah hangatkan hati sanubari diladang jiwa sepi
Sementara semerbak rindu kini menghiasi langit langit kalbu
Pada hangat ditelapak tangan cinta 
Bak kuncup mawar merekah

Udara yang membeku kini mencair lembut
Mengalir disetiap ruas nafas
Menyambut sapa hangat sang mentari pagi

Dan kini lembab pun perlahan menghangat 
Meski Lembah masih saja Sunyi
Namun kelak peluk mentari kan mampu menggelitik
Mencairkan sepi dalam riuh gemuruh rindu
Pada bait bait kisah senandung cinta.

Rindu_Sendu,082014

Menunggu

Pagi ku masih saja enggan merekah indah
Sementara mentari juga telah kehilangan hangat ditangan dingin
Sepucuk daun yang masih saja basah
Bersimbah tetes gerimis sisa semalam
Tetap menunggu mentari dalam selimut kabut
Yang hingga kini masih saja membisu dalam beku
Memendam gigil diujung bening
Erat genggam pada reranting saat tertiup angin semusim
Aku masih disini,
Mempercayai sinarmu mampu hangatkan gigil
Sebutir embun yang bergelayut diujung daun setengah kering.

Rindu_Sendu,082014




Rindu Ku

Sayang,
Maaf ......
Jika angin rindu tak mampu terbangkan sehelai daun kering jauh ke singgasana langit…
Buatku kau tetap yang terindah meski tak dapat ku jamah,
Biarkan aku tetap disini menimang rindu 
Meski mungkin rindu tak akan pernah terbalas,


Ya.....
Biarkan saja rindu menggelayut dipucuk daun
Hingga saatnya kering dan terjatuh dalam peluk bumi
Sampai saat itu tiba…
Izinkan aku bersama rapuhku melihatmu …
Memeluk bayanganmu...
Seperti  jantung memeluk debarannya,
Karena kau adalah denyut nadi yang ku rindu,
Dalam sendu...


Rindu_Sendu,21/08/14

Jumat, 08 Agustus 2014

Gelisah Rindu

Lembab sudah tanah terpijak
Meninggalkan jejak di pematang malam
Deru mimpi enggan tercipta
Menjauh dari gapai kholbu

Senandung merdu berdendang perlahan
Sayup jauh menjalar di udara
Mencipta Luka yang tak pernah terpahami
Mengeja malam dengan mata terpejam
Namun mimpi enggan jua tercipta

Di ujung harap tersemat rindu
Kala cinta harus bertasbih
wujudpun tak lagi menjelma sempurna

Rindu_Senja,090814

Senin, 04 Agustus 2014

Selimut Kabut

Sendu dipucuk pagi berselimut selembar kabut
Hanya rupa dingin yang tak pernah beranjak tinggalkan gigil
Pada sekeping hati yang masih merindu
Setangkup hangat dari hasrat jamah tangan sang angin
Ya... disini pagi tanpa hangat
Masih saja setia memeluk denting pada hening
Yang telah lama tak lagi berdenting bening
Membisu bersama beku
Pada dingin....
Pada selimut kabut yang basah oleh butir butir lembut sang embun
Mengharap hangat yang dibawa angin
Mampu hangatkan hening yang membeku dingin
Untuk gigil dedaun kering.

Rindu_Sendu, 082014

Luka

Dingin itu kini makin terasa membekukan syaraf 
Pada kata membisu tergores luka didinding hati
Ntah sampai kapan semua kan kembali seperti dulu
Hadirkan sekelumit hangat untuk hampa
Hangat dari intim sang celoteh memecah hening malam

Selembut sentuh udara menggenggam jemari
Sehangat sinar mentari mendekap gigil yang terasing
Kini hanya dingin tersisa dibalik diam seribu kata
Tak tersentuh kecuali luka yang mengikatnya
Dalam dingin yang kini membeku syaraf direlung hati

Rindu_Sendu,050814