Selasa, 09 September 2014

Tangis Sang Gagak

Pada bilah malam yang mengerucut fajar
Kembali terdengar gagak hitam menangis dalam remang
Warta pun tersampaikan  bersama desir angin
Yang kini terasa gersang
Jangan kau menangis wahai Gagak
Tangismu adalah dukaku
Perih luka hati karena tetes air matamu
Takkan pernah dapat terobati apapun
Hanya ingin ku dengar gema koar mu
Yang merobek hening malam
Membuncah diudara lembah sunyi
Sebagai pertanda kau bahagia disana
Jangan menangis…
Karena tangismu adalah duka dalam hati ku.

Rindu_Sendu,092014




Luka Sendu

Kurasa sendu masih erat memeluk lukaku
Pengap udara sesakkan nafas dikantung paruku
Langkah tertatih pada pijak tak tentu arah
Memendam puing pecahan rasa pada hening tak bertepi

Bayangku makin hilang memudar 
Namun duka lara masih enggan meneggelamkanku dilembah sunyi
Masih saja terdengar isak tangis perih
Dari ceceran puing puing reruntuhan asa

Biarkan aku hidup disini tanpa sentuhku pada langitmu
Biarkan merapuh dan melebur
Jangan kau buat ada tetes air yang makin membuat luka itu perih
Aku lelah, dan ingin lupakan semua.

Rindu_Sendu, 092014

Lingkar Purnama

Ternyata lingkar purnama telah sempurna dilangit sana
Berkawan segumpal awan yang setia berarak disampingnya
Meski langit terlihat kelam dalam bisu
namun purnama tetap indah bergantung terangi sisi gelapnya

Semilir anginpun terasa sejuk damaikan hati
Menyapu bersih debu yang menempel
karena jejak siang tergarang panas…
Dan setangkup harapan baru telah lahir disini
Digerbang fajar yang mulai menggeliat
karena seruan merdu malam untuk segera bertasbih
Tetes embun pun mulai nampak dipucuk pagi.

Rindu_Sendu, 092014


.

Kremasi

           Sampailah pada batas puncak ikhlas,
  Dimana akhirnya ditangan ini daun kering harus ku kremasi
     Tak ingin lagi ku lihat ia terluka,
Terinjak hina hidup yang tak abadi
Biarkan menjadi abu…
              Kan ku larung dibentang samudra langit biru
       Bersama hembus angin kemarau pembawa debu
Membumbung diangkasa kemudian hilang dalam peluk nirwana

Rindu_Sendu,092014




Sabtu, 06 September 2014

Luluh Lantah

Inikah malam itu, 
Dimana rembulan kehilangan pendar keemasannya
Dan angin memaksa daun kering melepas pegangnya pada reranting
Lalu menghempasnya terjatuh jauh ke dasar bumi

Inikah malam itu,
Dimana sepenggal kisah telah berakhir,
Menoreh sekelumit luka sampai puncak titik akhir
Yang hanya menyisakan bau anyir dari busuk yang berlendir

Inikah malam itu,
Saat satu harapan anak manusia musnah sia sia
Hingga tak mampu lahirkan tunas asa baru
Karena pada akar kau telah menghancurkannya

Rindu_Sendu,092014


Jumat, 05 September 2014

Bisik Luka

Masih saja terngiang ditelinga malam
Seakan terpatri dibilah sepi
Kata singkat setajam sembilu yang 
terlontar dari lembut cahaya senja
Meruntuhkan segala hasrat dan asa 
Luluh lantah menjadi debu yang membumbung diudara, sesak.

Saat ini bukan hanya luka gores yang menganga
Namun hujam sembilu tepat dirongga dada
Takkan pernah ku lepas sebagai pengingat
Biarkan berkarat tetap menancap
Sebagai cermin tempat hati berkaca bahasa

Yakinku untuk senja hadir esok telah memudar
Takkan ku lirik lagi langit barat meski biasnya tertinggal disana
Biarkan tangis pilu rembulan menjadi pembatas waktu
Tak selayak awan yang berarak menghiasi senja
Pun tak seindah bias jingga yang setia pada senja
Rumput liar tetaplah terinjak sebagai takdirnya.

Rindu_Sendu, 092014



Rabu, 03 September 2014

Dusta

Malampun membuka tabir selaput dusta 
dari pijar teduh sang senja
Bahwasannya senja adalah mentari yang terik 
menggarang bumi siang tadi
Bahwasannya senja ialah fajar 
yang membangunkan lelap mata pada titik mimpi
Lalu langit membasuhnya dengan gerimis

Hingga luruh debu dusta diwajah malam
Kini hanya ada gelap bersama temaram bintang dilangit-langit 
Terkadang senandung serangga malam menjadi penglipur lara
ketika angin membelai lembut helai nyiur diremang sana.

Rindu_Sendu,092014